Perahu Baja Peninggalan Belanda Hanya Teronggok di Pinggir Bengawan Solo
Oleh Solopos pada 18 June 2018 00:39
Sragen - Tanpa ragu-ragu seorang bocah menunjukkan sesuatu saat ditanya Amir (40) warga Dukuh Karang, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen. Bocah itu berjalan menuju tepi Bengawan Solo sekitar 20 meter dari rumahnya.
Amir pun meninggalkan mobilna di pinggir jalan buntu di Dukuh Jarak RT 017, Desa Karanganyar, Plupuh, Sragen, dan mengikuti langkah bocah laki-laki itu. "Itu perahunya, Pak," ujar bocah itu seraya menunjuk sebuah perahu yang bercampur dengan tumpukan sampah dan tanah di pinggir Bengawan Solo.
Amir pun memeriksa perahu berbahan baja tebal itu. Perahu itu panjangnya lebih dari 7 meter dan lebarnya hampir dua meter. Ujung depannya lancip tetapi pangkalnya melebar dan di bagian tengahnya juga lebar. Ketinggian perahu itu hampir 1 meter.
Sekrup-sekrup perahu dalam ukuran besar terlihat ada yang lepas tetapi juga ada yang mengunci kuat. Perahu itu tak terurus. Bagian tengah perahu tertimbun tanah dan ditumbuhi beberapa tanaman perdu.
"Tidak ada angka tahunnya ya," kata Amir saat memeriksa perahu bersama teman-temannya dan beberapa anggota keluarganya.
Amir sengaja datang khusus untuk melihat perahu yang konon kabarnya merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Kendati rumahnya dekat, Amir baru kali pertama itu melihat perahu tersebut.
Perahu itu terletak di kebun milik keluarga Suprapti (56) yang tinggal di rumah model lawas berjarak 10 meter dari bibir Bengawan Solo.
"Perahu itu diyakini masyarakat sebagai perahu peninggalan VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie). Sekitar 21 tahun lalu, perahu itu ditemukan warga pencari pasir di dasar Bengawan Solo. Awalnya hanya terlihat ujungnya. Kemudian pasirnya ditambang warga hingga akhirnya seluruh tubuh perahu terlihat," ujar Suprapti saat berbincang dengan Solopos.com, akhir pekan lalu.
Komentar (0)
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah yang pertama berkomentar!